TV mematikan, matikan TV

Coba lihat disekelilingmu, adakah kotak ajaib dengan gambar yang bergerak-gerak, yang bisa buat kamu tertawa, menangis, bahkan marah-marah? Perkenalkan inilah mesin hipnotis paling mutakhir dalam sejarah peradaban manusia di dunia ini. Kalaupun tidak ada, aku ucapkan selamat... hidupmu sedang terselamatkan.

Di negara seperti Indonesia yang rakyatnya masih lugu ini, benda ini lebih berbahaya daripada bom. Celakanya, orang diluar negara ini bisa melihat potensi mematikan itu. Maka bisa kita lihat produk-produk mereka sekarang ini, dengan menggunakan Televisi sebagai alatnya, mereka tahu betul cara mempergunakannya, dan sejauh ini berhasil. Alat ini betul-betul dioptimalkan, dari segala segi, bahkan sampai berita-berita yang disajikan kepada rakyat dengan tingkat kritis sangat rendah. Kalau kamu masih belum paham apa yang aku bicarakan, mari kita pakai contoh saja.

The Idol, pencarian bakat?
Bagaimana menurutmu? memang betul, tapi itu hanya salah satu sisi dari dadu konsep idol ini. Idol, dalam bahasa indonesia berarti berhala, tidak percaya? cek kamus. Sekarang coba pikirkan karakteristik berhala dan paralel nya dengan konsep acara ini. Baik, aku tidak ingin membuat kamu berpikir terlalu banyak, karena toh tidak semua yang baca tulisan ini tidak biasa berpikir banyak disebabkan terlalu sering bergaul dengan alat hipnotis itu. Melihat sejarah, berhala adalah sesuatu yang dipuja-puja, dan manusia melakukan ritual "pengorbanan" untuk arwah di dalam berhala tersebut. Kembali ke masa sekarang, di tabung itu biasanya terdapat beberapa idol yang senang jika menerima sesembahan/pengorbanan, pengorbanan modern ini bisa berupa sms, atau telepon dengan tarif premium. Dalam skala yang lebih luas, masing-masing negara mempunyai idol utamanya, untuk kemudian di adu untuk mencari "the world idol of the year", dan pastinya... dengan sesembahan yang lebih banyak juga. Beberapa idol2an di Indonesia yang terkenal antara lain: AFI, Indonesian Idol, Idola cilik, Putri Indonesia, Miss Indonesia, Supershow, dll (sebutkan). Selama ada sesembahan di sana, maka itulah idol. Hebatnya lagi, ada yang menyatukan konsep idol ini dengan agama. Siapa yang mendapatkan sesembahan terbanyak itulah "the true idol".

Reality show, sungguhkah real?
Yang bisa menjawab pertanyaan ini ya tentunya orang-orang yang membuatnya. Tapi coba kamu tanya dengan orang yang pernah terlibat dalam produksinya, jawabannya pasti mengagetkan, tapi tidak bagiku. Semua itu hanyalah skenario saudara-saudara, untuk meracuni terus-menerus pikiran anak muda sekarang dengan romantisme, sehingga mereka malas berpikir yang lain, khususnya memikirkan persoalan bangsa ini. Tangisan, teriakan, tamparan, kemesraan, apapun yang terjadi di situ hanyalah skenario yang sengaja dibuat supaya kamu merasa iba, senang, sedih, ingin melihat lagi dan lagi episode berikutnya sehingga pikiranmu penuh dengan hal-hal seperti itu dan malas berpikir, lupa akan fungsi keberadaanmu di dunia ini. Hebatnya, orang-orang itu tahu kelemahan anak muda kita yang hedonis, mudah mengeluarkan sesuatu untuk hal yang tidak berguna bagi dirinya sendiri, maka terciptalah kuis sms di sana.

Quiz SMS
Aku yakin sebagian dari kamu sudah tahu kebohongan besarnya. Stimulannya: Hadiah yang besar dan pembawa kuis yang seksi. Tampilan luar kuis semacam ini di jam-jam biasa berbeda dengan di jam-jam tengah malam, namun intinya sama, pembohongan publik meskipun dengan kadar yang berbeda. Orang tertarik mengirimkan sms dengan tarif premium untuk mendapatkan hadiah, kalaupun ada yang menang, sesungguhnya dia mendapatkan itu dari hasil patungan orang-orang pengirim sms di seluruh negeri ini, dan mungkin kamu akan teringat konsep judi, memang paralel. Di malam hari kuis ini bisa berlangsung berjam-jam dan lebih tidak manusiawi, mereka tidak rela mengeluarkan sepeserpun untuk hadiah, alhasil terjadilah pemenang hasil rekayasa. Kalaupun memang ada pemenang tanpa rekayasa, hadiahnya yang didapatkan nilainya tidak besar, dan tentunya secara tidak langsung hasil patungan dari orang-orang yang tertipu di acara itu. Judi lagi.

Sinetron dimana-mana
Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan sinetron ini, di masa lalu sinetron ini cukup mendidik. Mungkin kita masih ingat "Jendela Rumah Kita", "Si Doel anak sekolahan". Dan mungkin beberapa sinetron sekarang juga masih mendidik, walaupun aku susah menyebutkannya. Faktanya makin kesini wajah sinetron ini makin hitam, produser sinetron ini tahu kalau orang indonesia pikirannya sudah teracuni dengan seks, mistis, kekerasan, romantisme berlebihan, pesta-pesta. Dan belakangan mereka mencoba memasukkan kosakata makian dalam beberapa dialog, dengan tujuan agar kita semakin terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Hebatnya, mereka berhasil melakukannya dengan baik. Muda mudi bangsa ini semakin tidak terkendali tutur katanya dengan kosakata yang dulunya bisa membuat orang tua geleng-geleng kepala dan mengusap dada. Lantas produser film ikut-ikutan menggunakan trend ini. Nama-nama hewan dan kotoran dengan bahasa indonesia maupun bahasa daerah terlihat menghiasi dialog di dunia perfilman Indonesia. Di bawah bendera "apresiasi seni", mereka menggunakan trend ini bersamaan dengan unsur seks, kevulgaran, dan mistis. Bagiku, ini tampak sebagai analogi dengan pengerusakan dan penghancuran di bawah bendera "penegakan agama". Mereka (produser sinetron dan film) yang kebanyakan "bukan dari Indonesia" ini tengah mencoba merasuki dan membelokkan sedikit demi sedikit budaya Indonesia yang santun dan beradab dengan tabung ajaib ini.

Berita, cek sumbernya
Dibandingkan jaman dahulu, tentu wajah jurnalisme Indonesia sekarang jauh lebih baik dan demokratis. Tapi tunggu dulu, adakah efek samping negatif nya? Mari kita lihat berita-berita dalam negeri terlebih dahulu, hampir setiap hari penuh dengan kerusuhan, demo, aksi kekerasan, yang hampir jarang kita temui di berita jaman dahulu. Mungkin sebagian dari kamu punya pendapat, "lho, itu kan bagus, itu tandanya demokrasi di negeri kita berjalan baik". Aku setuju, sangat setuju, namun kita semua tahu apapun yang berlebihan itu pasti tidak baik, dan frekuensi berita seperti itu sudah terlalu tinggi hingga bangsa ini terlihat sebagai bangsa barbar, terbiasa melakukan kekerasan. Ini masalah yang kompleks, dan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Bagaimana pendapat orang asing di negeri kita kalau setiap hari disuguhkan berita seperti itu. Dampak yang mungkin antara lain: mereka menganggap bangsa kita ini rendah dan berpendidikan rendah karena sarat dengan kekerasan, mereka kurang nyaman di Indonesia lalu dari mulut ke mulut menceritakan ketidaknyamanan ini ke seluruh dunia dan mengakibatkan menurunnya devisa negara, derajat bangsa kita menurun, silakan diteruskan. Bagi orang kita sendiri juga berdampak adanya ketakutan, ketakutan dalam berbisnis, dalam berusaha, sehingga roda ekonomi kita tidak berputar lancar, bangsa ini makin miskin, silakan diteruskan. Alangkah indahnya kalau jaringan jurnalisme bisa duduk bersama agar berita yang disajikan tidak berdampak pada pergeseran kultur asli Indonesia, dengan intensitas tayangan berita yang proporsional.
Tapi belum selesai, bahaya yang lebih besar justru datang dari berita mancanegara. Memang tidak semua berita, tapi sebagian berita mengambil mentah-mentah berita dari luar negeri tanpa memeriksa kebenarannya. Memang ini bukan perkara mudah, dan tidak mungkin meriset satu-satu setiap berita. Untuk itu disini diperlukan sikap kritis dari penikmat tabung ajaib ini. Entah kenapa setiap lihat berita dari VOA aku berhati-hati sekali mendengarkannya. Dunia kita sekarang ini penuh propaganda dan manipulasi, cenderung mengarahkan kebencian pada suatu golongan/bangsa tertentu demi kepentingan orang kuat yang memiliki media tersebut.

Konser musik, apa konser goyang?
Begitu kuatnya budaya Indonesia ini tergoncang sampai-sampai semua sisi bergeser, sampai dunia musik Indonesia yang dulunya beradab sekarang sudah tidak lagi, terutama musik dangdut, yang paling memasyarakat di kalangan rakyat. Sering kita lihat musik dan goyangan tidak nyambung sama sekali, lebih banyak goyangannya daripada lagunya, dan goyangannya kebablasan. Hebatnya lagi, si pelaku goyangan berlindung di balik nama tuhan sebagai pembenaran aksinya itu. Hmm... apa pendapat Tuhan ya. Aku tidak berani menjustifikasi karena bukan tuhan, tapi aku hanya melihat dampak globalnya dari sisi duniawi. Mungkin banyak yang berpendapat begini, "biarkan saja dia goyang, tidak usah munafik, itu tergantung orang yang melihatnya saja, kalau dasar otaknya sudah ngeres ya mau sopan juga tetap saja vulgar". Pernyataan ini sama konyolnya dengan pendapat siswa malas maju berikut, "biarkan saja ujian besok, tidak usah sok rajin deh, itu tergantung orangnya saja, kalau memang dasarnya bodoh ya mau belajar juga tetap saja jelek nilainya".  Ngeres dan bodoh dua-duanya kecenderungan manusia, tapi bukan berarti manusia diam saja tidak memeranginya, dan menuduh orang yang memeranginya sebagai orang sok alim atau sok pintar. Apapun itu, faktanya adalah nilai-nilai seperti ini awalnya dari tabung ajaib, dan masyarakat terbiasa melihat gerakan sensual seperti itu hingga tidak membatasi ruang dan waktunya bagi generasi berikutnya. Hukum sebab akibat disini terjadi lagi, generasi mendatang akan cenderung menyukai jenis gerakan yang secara statistik dapat membangkitkan syahwat, cenderung mudah melakukan pelecehan seksual, bahkan terbiasa melakukan seks bebas. Kontaminasi di otak muda mudi bangsa ini semakin keruh dan keruh hingga kehilangan identitas budaya aslinya. Jika suatu bangsa sudah hilang identitas budayanya maka bukan tidak mungkin bangsa itu lambat laun akan punah.

Lifestyle, style siapa?
Kekuatan hipnotis tabung ini begitu dahsyatnya sampai-sampai seorang remaja putri yang kehidupan keluarganya tidak terlalu mampu tega menghambur-hamburkan rezeki orang tuanya untuk membeli pakaian model terbaru, make up merk terkenal, membeli makanan ala luar negeri yang harganya bisa untuk hidup normal selama seminggu, dan lain-lain. Sampai-sampai orang tuanya pusing karena jika tidak diberi anaknya akan membangkang dan khawatir pergi dari rumah. Begitupun remaja putranya, sepatu dan jas model terbaru, Handphone yang paling canggih, membawa pacarnya ke tempat-tempat hiburan mahal yang ditampilkan di tabung hipnotis itu agar tidak dianggap ketinggalan jaman. Mereka sudah seperti robot saja, otaknya tercuci, menganggap apapun yang ada di tabung itu harus dicoba, semuanya harus ditiru. Orang bisa saja nekat mengorbankan apa saja termasuk pendidikan dan keluarganya bahkan nyawa dan keselamatan orang lain asal bisa mengikuti lifestyle ini. Kegilaan masal ini harus dihentikan segera, karena dampaknya jangka panjang.

Silakan kamu analisa konsep gambar bergerak lainnya di dalam tabung hipnotis ini melalui komentar.

Musuh kita sebenernya bukanlah tabung ini, tapi orang-orang yang membuat gambar-gambar di dalamnya. Kita harus berhati-hati dengan pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatannya, mereka akan melakukan apa saja demi materi dan kepentingan mereka. Perang kita jaman sekarang ini lebih berat dari jaman dahulu, karena musuh kita adalah sebagian dari bangsa kita sendiri yang melakukan apapun demi harta dan tahta, sebagian dari mereka ada di posisi-posisi penting pemerintahan ini dan kenyataan ini sungguh mengerikan. Dikarenakan gambar-gambar dalam tabung hipnotis ini, suatu budaya bisa punah, disusul kepunahan suatu bangsa. Kalaupun itu tidak terjadi, kenyataannya tabung ini menjadikan bangsa kita malas berpikir dan tidak kreatif karena otak kita terus-terusan disuguhkan hiburan dari berbagai sisi. Orang-orang ini menjauhkan kita dari kenyataan sesungguhnya dan mencegah kita untuk terlalu banyak berpikir, karena jika kita berpikir maka keberadaan mereka akan tumbang, dan investasi besar mereka selama bertahun-tahun akan sia-sia.

baca Efek Negatif TV

                            

Good Will says

Say I'm working at N.S.A. Somebody puts a code on my desk, something nobody else can break. So I take a shot at it & maybe I break it. And I'm real happy w/myself, 'cause I did my job well. But maybe that code was the location of some rebel army in North Africa or the Middle East. Once they have that location, they bomb the village where the rebels were hiding & 1500 people I never met, never had no problem w/get killed. Now the politicians are sayin', 'Send in the Marines to secure the area' 'cause they don't give a shit. It won't be their kid over there, gettin' shot. Just like it wasn't them when their number got called, 'cause they were pullin' a tour in the National Guard. It'll be some guy from Southie takin' shrapnel in the ass. He comes back to find that the plant he used to work at got exported to the country he just got back from. And the guy who put the shrapnel in his ass got his old job, 'cause he'll work for 15 cents a day & no bathroom breaks. Meanwhile my buddy from Southie realizes the only reason he was over there was so we could install a govt. that would sell us oil at a good price. And of course the oil companies used the little skirmish over there to scare up domestic oil prices. A cute little anchillary benefit for them but it ain't helping my buddy at 2.50 a gallon. They're takin' their sweet time bringin' the oil back, of course, maybe they even took the liberty of hiring an alcoholic skipper who likes to drink martinis & fuckin' play slalom w/the icebergs, & it ain't too long 'til he hits one, spills the oil & kills all the sea life in the North Atlantic. So my buddy's out of work, he can't affort to drive, so he's got to walk to the job interviews, which sucks 'cause the shrapnel in his ass is givin' him chronic hemorrhoids. And meanwhile he's starvin' 'cause every time he tries to get a bite to eat the only blue plate special they're servin' is North Atlantic scrod w/ Quaker State. So what'd I think? I'm holdin' out for somethin' better. I figure, fuck it. While I'm at it, why not just shoot my buddy, take his job & give it to his sworn enemy, hike up gas prices, bomb a village, club a baby seal, hit the hash pipe & join the National Guard? I could be elected president.

-Good Will Hunting-

Dari telinga turun ke hati

Selama ini, Instrumen adalah satu-satunya yang bisa menemani saya kalau kuping lagi butuh dimanjakan, sambil otak bekerja. Di antaranya yang sering saya dengar yaitu Mozart, Bach dan Vivaldi dengan Baroque nya, juga beberapa instrument lembut lainnya. Nggak tahu kenapa beethoven sulit buat teman kerja, ia harus didengarkan tanpa otak sedang bekerja. Mungkin karena dinamikanya yang terlalu liar, atau terlalu sering adanya choir yang bersemangat di belakangnya.

Lagu (Songs)
Lagu (musik berlirik) sudah pasti sulit buat jadi teman kerja, karena sulit mulut ini untuk tidak mengikuti liriknya, jadi kurang bisa fokus dengan pekerjaan. Kalau mau nyanyi, ya sediakan waktu khusus buat nyanyi, karaoke sekalian mungkin, hehe.. memang jarang, biasanya kalau lagi ada teman yang bisa gitar, atau adik lagi dapet chord lagu tertentu. Tapi saya biasanya sekalian recording kalau lagi wasting time kayak gitu. contohnya lagu More Than Words ini, yang main gitarnya Doopy. (sayang dop belakangnya kacau ya, hehe), suara 1, 2, dan 3 nya saya, di mix pakai nero wave editor. Berisik banget ya? Saya memang bukan penyanyi, dan bukan di studio, jadi ya harap maklum. :p
Waktu jaman SMA dulu memang seringkali diminta sekolah untuk mewakili singing contest, bersama kedua teman saya Anto dan Tyas, yang sampai sekarang sepertinya masih menekuni dunia nyanyi-menyanyi, malah sepertinya sudah jadi artis. hehe.. apakabar kalian? sukses ya kariernya. Meski sampai sekarang masih belum ngerti kenapa kok saya yang diminta, jelas-jelas pita suara saya ini tidak memenuhi standar kualitas tinggi suatu lagu, ikut MTQ saja dapet tidak dapet tidak.

Back to Instrument...
Bagiku, musik-musik yang pure seperti instrumen lebih bisa jadi suplemen bagi kuping dan otak sekaligus, terutama otak. Nggak tahu kenapa, somehow musik semacam Mozart seakan-akan memutus-sambungkan neuron-neuron di otak dengan cara yang indah sedemikian hingga aliran listrik antar neuron melalui axon-axon nya mengalir lancar. Dia benar-benar jenius, begitu juga dengan komposer lainnya. Sepertinya Tuhan memang menciptakan mereka untuk manusia itu ada maksudnya, sebagian manusia mau memikirkannya, sebagian lagi enggan mengeksplorasi. Tidak jarang kombinasi cello, violin, terompet, bass, piano, dengan amplitudo dan tempo tertentu bisa mengeluarkan air mata. Setiap elemen punya kekuatan dan peran tertentu, sahut menyahut, saling bersinergi membentuk simponi yang luar biasa. Manusia sebetulnya bisa belajar dari musik, bahwa perbedaan kalau disinergikan  bisa menghasilkan sesuatu yang indah. Tapi jaman sekarang sepertinya kita lebih suka lagu berlirik ketimbang musik.
Menurut saya, musik yang kita dengar turut membentuk karakter kita. Beberapa musik yang terlalu banyak bass atau treble, tidak beraturan, bisa membuat jiwa kita juga tidak beraturan, menjadi pemberontak, atau semacamnya. Apalagi kalau ditambah lirik. Dengarkan saja dengan kadar yang tidak terlalu berlebihan. Gunakan telinga untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak mubah (sia-sia).

Elven Hymne

Ini salah satu suara-suara yang sering didengarkan ke telinga saya, yang ini lebih ke mendapatkan "nuansa". Biasanya menjadi lagu tidur. Elven Hymne adalah Hymne atau lagu-lagu bangsa Elf (peri, fairy) di dunia Tolkien. Para elf dikenal sebagai bangsa yang indah (dari segi rupa, suara, kebudayaan, arsitektur, dll). Menurut penggambaran Tolkien, tubuh mereka seperti diselimuti cahaya, suaranya merdu dan jernih seperti lonceng. Contohnya hymne A Elbereth Gilthoniel. Di film Lord of The Rings trilogy, elf digambarkan dengan sangat baik oleh Peter Jackson. Para Elf sangat mencintai alam, seni, dan sastra. Sangat artistik dengan kebudayaan mereka yang tinggi, dan dikenal paling bijak di antara bangsa lain. Tentu saja saat mendengarkannya saya tidak bisa mengikuti liriknya, karena dalam bahasa Elf (Sindarin, Quenya). Meski tahu sedikit-sedikit bahasa mereka.

-o{ ditulis dengan ditemani Mozart, Symphony No.30 [D Major] Andantino con moto }o-

Sakit

Aku bagai malaikat penjaga yang jatuh ke dalam bayangan.
Kurasakan cahayaku meredup..
Dan aku tak yakin berapa manusia yang meratap
Jika aku kembali, kuharap segalanya lebih baik

Artinya : Aku lagi sakit, begitu mengganggu, jadi nggak bisa fokus dengan pekerjaan.. apapun. Mohon do'a restu.. (loh!)

Kembali ke Pensil

Setelah setahun lebih vaccum akhirnya aku menggores2 pensilku lagi. Teringat kembali bagaimana nikmatnya menggores di iringi musik klasik dari maestro2 dunia: mozart, beethoven, vivaldi, bach. Agak kaku juga memang memegang kesembilan pensilku yang masing2 punya karakter unik, plus penghapus dan peruncing. Aku menikmati lagi sisi lainku sebagai ilustrator.
Di saat stress (pusing berat), refreshingku yang benar2 bikin cool down ya kalau tidak belanja (sayur+buah2an), masak, melukis. Selain itu belum bisa bikin sembuh.

Setelah cool down, aku kembali ke peranku yang lain, kembali ke paper2, simbol2, thesis.

Selamat menikmati galeri terbaruku lagi...

Varian Perpisahan

Aku masih nggak ngerti kenapa mesti ada yang namanya perpisahan, apapun bentuknya. Padahal sebabnya itu jelas, egoisme manusia. Kenapa ya, manusia nggak bisa ikhlas menerima perilaku manusia lain. Variannya banyak, ada yang istilahnya "putus", kalau diantara dua kekasih, ada yang istilahnya "cerai", kalau antara suami istri, yang paling parah perpisahan antara sahabat atau dengan yang dianggap kakak/adik.

Menurutku, Pernikahan dan hubungan kekasih yang terpecah terkadang masih bisa diperbaiki, tapi kalau persahabatan yang terpecah sulit sekali untuk menyatukannya lagi, bahkan kadang berbuah dendam. Dasar penyakit manusia.

Aku punya seorang "kakak" yang ternyata mengalami perpisahan dengan orang yang dicintainya. Aku bingung, kenapa ya orang-orang itu mau curhat ke aku. Dari sejak SMP aku sudah dicurhatin sama orang-orang dewasa tentang perpisahan, ada yang putus, ada yang cerai, jadi secara teori aku tahu banyak tentang perpisahan ini. Aku cuma bisa dengar dan memberi saran, aku sendiri nggak yakin dengan saran-saranku, tapi yang kuyakin arahnya benar.

Mengapa harus ada perpisahan? nggak tahu kenapa ada saja alasannya. Sebenarnya dari beberapa cerita yang kudapat kesimpulannya perpisahan terjadi karena tidak ada pihak yang mau mengalah. Kalau ditelusuri lagi, ketidakterbukaan juga jadi salah satu sebabnya. Kenapa ya manusia pada belum sadar juga kalau dunia ini semu, apa yang kita lihat dan rasakan semuanya semu. Jadi keputusan yang mereka ambilpun semu. Prinsip itu juga semu, karena prinsip biasanya perpisahan terjadi. Aduh, kenapa sih nggak dimodifikasi sedikit yang namanya prinsip itu, di singkronkan dengan prinsip orang lain.

Ada lagi sebetulnya jenis perpisahan yang lain, yaitu perpisahan karena kematian, yang satu ini tidak perlu dijelaskan lagi karena ada kuasa Tuhan disana, manusia nggak bisa berbuat apa-apa.

Buat kalian yang ingin berpisah, coba pikirkan lagi.. tidak ada untungnya. Manusia di kirim ke dunia untuk bekerja sama membagi cinta.

Farewell my friend : Zaina Fitria

Innalillahi wainna illaihi roji'un

Telah meninggal dunia teman kita :ZAINA FITRIA
(S1-Moehi 99) pada hari Jumat 2 Juni 2006 pukul
16:00 WIB di RS Panti Rapih Jogja

Jenazah disemayamkan di Jalan Kaliurang Km 5
Pogung Baru D 25(depan Mesjid Pogung Raya) dan
dimakamkan Sabtu,3 Juni 2006 ba'da Dzuhur

==========================================================

Lagi-lagi, salah satu teman terbaik yang pernah kukenal, berlalu ke sang Khalik. Penyebabnya adalah kanker otak yang ganas. Aku nggak pernah ketemu zaina lagi semenjak lulus SMA, dan sekarang aku nggak akan pernah ketemu lagi. Padahal aku udah niat habis ujian ini mau silaturahmi ke jogja sekalian jenguk dia, tapi terlambat. Tangisku hanya dalam hati.
Aku ingat waktu bazaar SMA dulu, Zaina memborong kaligrafi buatanku, waktu itu dia ditemani bapak ibunya, mereka semua suka dengan karyaku, dan itu suatu kebanggaan. Karena aku nggak niat cari untung, aku jual murah sebagai hadiah untuk Zaina dan keluarga. Nggak bisa dipungkiri, itu berkesan, kalau ada orang yang menanyakan tentang kesuksesanku di bidang kaligrafi, aku pasti dengan bangga menyebut nama Zaina. Entah kenapa mereka suka, padahal karyaku nggak bagus-bagus amat, bahkan kalau bisa kembali ke masa lalu, aku datangi diriku sendiri waktu itu dan kuganti dengan karyaku saat ini yang secara teknik lebih baik.
Zaina juga anggota aktif suatu ajang diskusi yang pernah aku ketuai waktu SMA, bernama Fosture F-Fwd, ia setia mengikuti setiap kegiatan diskusi dan tafakur alam, menyumbangkan buah pikirannya dalam diskusi-diskusi. Mungkin itu yang bisa kuingat tentang Zaina Fitria.
Mengingat kematian memang cara yang paling efektif untuk jadi manusia yang lebih baik, baik dalam artian universal. Apa ukurannya? yang paling objektif, kalau kita mati nanti seberapa banyak manusia di dunia ini yang menangisi kita karena merasa kehilangan, dan seberapa banyak yang mensyukuri kematian kita. Sebagai deskripsi, teroris yang meneriakkan Allahu Akbar dan menimbulkan banyak korban bukan kategori yang baik, karena hanya segelintir orang yang menangisi (keluarganya dan orang-orang yang sepemikiran dengannya), dan sebagian besar makhluk dunia mensyukurinya. Setidaknya itulah kenyataannya. Masalah apakah Allah memasukkannya ke syurga atau tidak, itu diluar kuasa manusia untuk membuat justifikasi.
Tapi aku ingin pelajaran tentang kematian ini tidak melibatkan orang-orang terdekatku, dan itu memang nggak mungkin, aku toh juga akan berakhir seperti itu. Sebelum aku mengalaminya, aku ingin mencari bocoran dulu bagaimana cara menghadapinya, seperti halnya menghadapi ujian.

Selamat jalan temanku, sahabatku, partnerku.... Allah akan menerangi jalanmu ke syurga-Nya.

Dosen Panutan

Melihat beberapa teman punya blog aku jadi penasaran rasanya.

Just inform you kalau aku baru saja selesai ujian, ujian yang seperti bukan ujian.
My god... ujian S1 ku jauh lebih susah dari yang kemarin. Tapi aku sendiri nggak yakin benar jawabannya, dari pengalaman yang sudah-sudah, jadi aku nggak akan banyak bahas tentang ujian.
Yang jelas aku sudah bekerja non-stop. Untung waktu S1 kemarin aku dilatih tahan banting dengan pembimbing tercintaku Pak Freddy Zen, dilatih bekerja 24 jam non stop, tidur sambil duduk di depan komputer dan buku-buku, dan dilatih untuk tidak sombong dengan ilmu kita. Yang terakhir ini yang sebenarnya paling berat, karena orang bijak pun kadang-kadang tidak bisa tidak sombong dengan yang ia tahu. Profesor pun banyak yang merasa paling benar sendiri, padahal mereka itu tidak akan pernah tahu semuanya kecuali sedikit.
Satu lagi dosen yang menjadi panutanku waktu S1 adalah almarhum pak Hans Wokspakrik, beliau mendidik mahasiswa nya tidak dengan kata-kata namun dengan perbuatan, beliau menunjukkan bahwa beliau mampu bekerja sampai jam 11 malam di kampus setiap hari kerja, dan pulang jalan kaki sejauh 3 kilo. Beliau yang senantiasa tidak pernah marah walau mahasiswa nya sebrengsek apapun. Beliau yang paling tahan dan sabar memberi kuliah 6 jam non stop yang isinya rumus semua, atas permintaan mahasiswa, karena kita menyukai beliau. Aku belum menemukan dosen yang seperti itu lagi di ITB, bahkan di Indonesia, nggak tahu kalau di luar negeri sana. Mengapa Allah cepat memanggil orang-orang seperti itu ya.

Pak Freddy, Pak Hans, doakan anak didikmu ini.. agar senantiasa kuat seperti kalian, dan bisa jadi terang bagi manusia lain. Semangat ilmuwan akan senantiasa kupegang erat selama hidup.